Saturday, January 30, 2016



Datangnya masalah adalah kewajaran dalam kehidupan manusia. Bahkan tidak satu pun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah. Menariknya adalah dari berbagai masalah tersebut, musibah adalah hal yang rasanya sulit untuk diterima. Musibah yang datang terkadang terasa berat, mungkin terlalu berat, sehingga ada sebagian manusia yang merasa tidak mampu menerima musibah tersebut.
Perusahaan yang dibangun dengan susah payah tiba-tiba mengalami kebangkrutan, banyak piutang yang macet, bahkan tidak tertagih. Ada juga yang ditipu oleh teman kerjanya dan dampaknya membuat dirinya terlilit hutang yang cukup besar. Namun, terkadang musibah tidak hanya berhenti di situ. Istri yang dicintainya pergi meninggalkannya, belum lagi masalah hukum yang mengintai. Berbagai masalah seolah-olah datang bergelombang dan rasanya keajaiban adalah satu-satunya jalan keluar.
Masalah adalah biasa, namun musibah bisa membuat manusia stress dan depresi dan terkadang sulit untuk diterima.
Bagaimana cara kita mengatasi hal ini?
Jawabannya: Jika anda adalah seorang muslim yang beriman, maka atasilah musibah tersebut berdasarkan Alquran.
Alquran?
Benar. Kita semua tahu itu.
Pernahkah anda mengatasi masalah berdasarkan Alquran? Tidak pernah? Mengapa? Tidak pernah baca Alquran? Atau tidak ada waktu untuk membacanya? Bukankah Alquran adalah PETUNJUK bagi manusia? Untuk apa ada petunjuk jika tidak dipahami dan diamalkan? Jika anda tertarik, mari kita kupas petunjuk-petunjuk di dalam Alquran mengenai musibah. Hal ini kita perlukan untuk menghadapi masalah dan musibah tersebut. Dan yang paling penting adalah mencari SOLUSI untuk mengatasi masalah tersebut.
  1. PERTAMA, Siapakah yang menimpakan musibah kepada kita?
Jawabannya ada dalam Firman Allah berikut ini :
Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At Taghaabun : 11)
Dalam ayat tersebut, kita diberikan suatu petunjuk yaitu tidak ada satu pun musibah yang menimpa manusia kecuali atas izin dari Allah SWT. Ya, hanya Allah SWT saja yang berkuasa atas kita. Jika Allah tidak menghendaki musibah datang kepada kita, maka tidak ada yang mampu mencelakakan kita. Dan sebaliknya, jika Allah hendak menimpakan musibah, maka tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya.
  1. KEDUA, Mengapa Allah SWT mengijinkan musibah menimpa kita? Bukankah Allah Maha Penyayang?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat kita peroleh dalam Firman Allah SWT berikut ini :
Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy Syuura : 30)
Berdasarkan ayat di atas, kita diberitahu bahwa musibah yang menimpa kita adalah karena perbuatan kita sendiri. Namun menariknya, tidak semua dosa menghasilkan musibah. Allah mengampuni sebagian besar dosa (kesalahan-kesalahan) kita. Seandainya seluruh dosa dan kesalahan harus kita bayar dengan musibah, maka bisa jadi sisa hidup ini akan kita jalani dalam naungan musibah karena banyaknya dosa kita. Hal ini semakin menguatkan bahwa Allah benar-benar Maha Penyayang.
  1. KETIGA, Siapa yang dapat mengangkat musibah tersebut?
Perhatikan Firman Allah berikut ini :
Artinya: Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu; tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. Ali ‘Imran : 160)
Berdasarkan ayat di atas, dapat kita peroleh suatu petunjuk bahwa hanya Allah SWT yang dapat menolong kita. Ya, hanya Allah SWT. Sehingga, segala musibah yang menimpa kita bisa berhenti atau terus menyiksa kita semua itu tergantung kepada Allah SWT. Jika Allah SWT menolong kita, maka kita bisa selamat. Dan tidak ada penolong lain selain Allah SWT.
Percuma saja anda meminjam uang ke Bank. Percuma saja anda memohon bantuan pada orang yang anda anggap kaya. Percuma saja anda melakukan ritual klenik yang justru menyusahkan kehidupan anda berikutnya. Kembalilah kepada Allah, karena Allah yang menimpakan musibah tersebut dan hanya Allah pula yang berkuasa menolong kita. Perhatikan ayat berikut ini :
Artinya: Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam : 17-18)
Maka berhentilah merengek (curhat, mengeluh, dll) kepada manusia. Berhentilah percaya pada hal-hal tahayul dan kembalilah kepada Allah SWT. Perbaiki hubungan kita kepada Allah SWT dan marilah berharap Allah berkenan menolong kita. Karena hanya Allah SWT harapan kita.
Anda ingin ada perubahan pada kehidupan anda? Maka lakukan perubahan atas hubungan anda dengan Allah SWT. Hanya kepada-Nya orang beriman menggantungkan diri.
  1. KEEMPAT, Bagaimana caranya supaya Allah menolong kita?
Ini adalah pertanyaan pentingnya. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini untuk menjawab pertanyaan tersebut :
Artinya: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al Baqarah : 45)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah : 153)
Dari kedua ayat tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita tentang bagaimana supaya Allah SWT berkenan menolong kita. Yaitu dengan SHALAT dan SABAR.
Ini adalah petunjuk dari Allah SWT berdasarkan Alquran yang suci. Petunjuk penting untuk kita manusia. Sekali lagi, untuk apa ada petunjuk jika tidak dipahami dan diamalkan?
Sehingga mulai sekarang, mari perhatikan shalat kita. Apakah sudah tepat waktu, atau kalau sempat saja? Apakah sudah khusyu’ ataukah sekedarnya? Apakah kita sudah ikhlas mendirikan shalat karena Allah, ataukah karena alasan lain? Perbaiki shalat kita, maka anda bisa berharap datangnya pertolongan Allah SWT. Bahkan jika anda tidak membutuhkan pertolongan Allah sekali pun, shalat tetaplah WAJIB hukumnya jika anda mengaku beriman. Setelah shalat sudah anda perbaiki, maka BERSABARLAH. Perhatikan apa yang terjadi pada kehidupan anda, maka bertindaklah jika memang harus bertindak. Dan jangan berlebihan. Mudah-mudahan Allah SWT berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan berkehendak menolong kita. Karena hanya kepada Allah SWT kita bertawakkal.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/01/03/77826/77826/#ixzz3yoOMPRBL 

Friday, January 29, 2016

[Diari] Tentang Safiyyah, Selepas 2 Tahun.[Bah. II]







Jika saya beritahu, ia mungkin dianggap sebagai alasan. Tetapi sesungguhnya, memang saya penat dan kurang mahir menangani anak sendiri sementelah hanya menjaga dan membesarkannya ketika cuti. Sekarang pula dia sudah masuk fasa melasak. Ya Allah, kadang-kala nak menangis jugalah bila sukar untuk mengawal keadaan. Dan bukan sekali terasa bagai bukan ibu sempurna. Apatah lagi tatkala memerhatikan blogger dan selebriti mempamerkan kehidupan bak supermak dan ideal, makinlah terasa jauh.

Sabarlah Najiha, selalu saya kata pada hati kecil. Ini bahagian saya, dugaan saya. Kurang di sini mesti lebih di sana. Allah taa'la kan maha adil. Dan antara keadilan Allah taa'la yang saya berjaya lihat ialah bila mana Safiyyah tidak pernah lupa akan kami ibu bapanya. Walau sedari 8 bulan usianya kami telah terpisah, bila kami pulang, dia tidak kekok untuk tidur di celah ketiak kami dan tidak menolak bila disentuh. Dan sesungguhnya, Safiyyah bayi yang amat mudah dijaga ketika kecil. Hanya yang renyah pada tubuhnya yang begitu kecil dahulu dan kekok diuruskan oleh kami sebagai ibu bapa setahun jagung. Selain itu, hanya pada hari-hari terawal selepas kelahirannya sahaja saya dan Safiyyah perlu bermalam di hospital kerana dia mengalami demam kuning. Selain itu, tidak ada perkara yang besar-besar. Saya dan suami rasa bersyukur kerana Allah taa'la sangat penyayang terhadap kami berdua yang kekurangan ilmu.

Teringat saya pada suatu malam di bulan Ramadhan, pada bulan keempat kandungan, di mana saya muntah teramat teruk sehingga menyamai hampir keseluruhan periuk memasak yang anggarannya dalam 2 liter. Rasanya malam tu paling dahsyat sekali, sampai terkencing-kencing atas tilam. Saya tak malu untuk cerita kerana mungkin ada orang lain yang mengalaminya juga dan jika ada lelaki yang membaca post ini, mungkin isteri anda juga akan menghadapi dugaan sama, jadi sila bersedia. Usai muntah, suami kemudiannya membuang muntah tersebut, membantu mengalihkan saya ke katil lain dan membersihkan tilam tersebut. Kadang-kala bila saya pandang Safiyyah, saya pasti akan teringat kenangan itu. Safiyyah ini lebih kurang macam ayahnya juga. Senyap-senyap macam tak pedulikan kita, tapi bila masanya perlu, dialah yang paling prihatin. Dalam lasaknya, pandai dia behave bila yang menjaganya tidak sihat. Itulah antara belas kasihan daripada Allah taa'la pada kami semua. Terima kasih Allah...

Oh ya, seminggu lepas saya terperasan sesuatu pada anakanda Safiyyah. Dia asyik menggaul-gaul sepasang stokin bersih di dalam kotak tisu kosong. Bila ditanya sedang buat apa, dijawabnya matak. Bila ditanya masak apa pula, jawabnya matak maggi. Dah pandai main masak-masak rupanya anakanda Ummi ni. Hahaha, ni mesti selalu nampak Ayongnya masak maggi malam-malam. Nampak sahajalah, makan tak boleh. Kan kecil lagi.

Disebabkan kasihan padanya, keesokan hari kami berdua membuat kek bersama-sama. Sekadar hendak memberikannya pengalaman memasak sebenar. Kami berdua membuat Kek Span Oren menggunakan buah limau Mandarin. Alhamdulillah, berjaya juga masak. Selama ni saya bakar kek waktu tengah malam sahaja selepas semua orang tidur kerana tak ingin diganggu Safiyyah. Rupanya taklah kacau-bilau pun bila ada anak di sisi. Cuma kena selalu perhatikanlah supaya anak tak termakan bahan-bahan mentah. Selepas itu, kami membasuh pinggan bersama-sama. Nama je basuh sama-sama sedang realitinya saya jelah yang buat. Si kecil itu hanya main air sahaja sampai basah lenjun. Hahahaha. Takpelah nak, nikmatilah keseronokkan waktu muda selagi boleh. Selepas itu, kami sama-sama menunggu kek masak. Selang sepuluh minit je saya akan ditanya, kek matak? Kek matak?  Hahaha, gembira betul anakanda Ummi. Sampai tak sempat nak tunggu sejuk keknya sebab dah selamat dimakan si kecil. Secara keseluruhannya, saya benar-benar gembira dengan kenangan ini. Walaupun tiada sekeping pun gambar diambil, insyaAllah, semoga gambar dalam minda sentiasa segar.

Begitulah cerita sepanjang seminggu semasa dan selepas ulangtahun kelahiran Safiyyah kedua. Tiada kisah sensasi, hipster mahu pun mewah untuk dicoret, tetapi cukup mewah dengan kegembiraan dan kenangan di jiwa seorang ibu.

Semoga Allah taa'la mengampuni kita semua...




Jannah Najiha
2.17 pagi, 30 Januari 2016
Teratak Kimchi

Thursday, January 28, 2016

[Diari] Tentang Safiyyah, Selepas 2 Tahun. [Bah. I]


Tarikh sebenarnya ialah pada hari Jumaat, 21 Februari 2014. Takdir Allah taa'la, saya dimasukkan ke wad untuk menjalani kelahiran paksaan pada 23 Januari 2014 dengan bukaan serviks 2 cm. Naluri seorang ibu, sebulan sebelumnya saya seperti merasakan bahawa anak ini akan lahir awal, tetapi saya menidakkannya. 

Hari Jumaat, 4.30 pagi, induction pertama dilakukan. Sakit. Setiap kali lepas solat saya berdoa supaya anak ini lahir pada hari Jumaat yang berkah, sama seperti ketika emak melahirkan saya dahulu, Jumaat sebelum Subuh. Induction kedua, saya lupa, tetapi lebih kurang pukul 10.30 pagi.

Petang, pukul 3.51 petang, saya mula merasakan kesakitan. Seolah-olah urat sepanjang pinggang ditarik tetapi tidak terlalu sakit. Masa tu tengah makan ayam KFC yang Ruby bawa. Pukul 8 malam, saya meraung. Sakit teramat sangat sehingga solat maghrib sambil duduk atas katil sahaja. 

Sakit datang begitu kerap dan kesakitannya teramat sangat. Terasa seperti hendak tercabut nyawa walaupun sakitnya hanya sekitar 30 saat sahaja setiap kali datang.

 Saya menangis menelefon suami. Malangnya suami tidak boleh teman kerana waktu melawat sudah habis. Setiap kali sakitnya datang, saya memaut besi katil sekuat hati supaya tidak meraung. 

Saya dengar, kakak di katil sebelah menelefon suaminya. Katanya, dia takut melihat saya mengerang kesakitan. Saya dah lupa tapi rasanya kakak tersebut cuma drip air sahaja, masanya untuk bersalin belum tiba. Walaupun kasihan padanya yang takut, saya sendiri pun tak boleh berlakon okay.

Tengah malam saya diberi suntikan (dengan keizinan saya) untuk memudahkan saya tidur. Sakit tidak hilang, tetapi sekurang-kurangnya saya boleh menjana sedikit tenaga untuk hari esok. 

4.30 pagi saya meminta diperiksa. 4 cm nak ke 5 cm. Okay, boleh tolak ke labour room dah. Di katil, saya menukar persalinan lain, memakan sebungkus Kit Kat serta sekotak Air Soya dan kemudian ditolak dengan kerusi roda ke bilik bersalin.

Doktor memasang branula, mengeluarkan air kencing dan memecahkan air ketuban. Ya Allah, masa tu dah rasa sakit teramat sangat. Berkali-kali minta kebenaran jururawat untuk benarkan suami masuk, tetapi hampa. Mungkin kasihankan saya yang keseorangan sejak jam 5 pagi, pada pukul 10 (tak silap), suami dibenarkan masuk sekejap. Lalu, beliau masuk, memberikan saya sekeping surat dan mencium dahi saya sebelum keluar. 

Tepat jam 12 tengah hari baharulah bukaan menjangkau 10 cm dan setelah 8 minit berusaha, akhirnya Safiyyah melihat dunia.

Itu sahaja yang mampu saya ingat setelah dua tahun berlalu. Apa pun, ia pengalaman mulia dan berharga daripada Allah taa'la. 

Safiyyah sudah dua tahun sejak 25 Januari lalu. Tiada majlis besar-besaran. Abi perlu pulang pada hari lahir Safiyyah, maka dua hari sebelumnya (23/1) saya memasak kek coklat dan beberapa lauk seperti pajeri terung, ayam masak merah, sawi tumis dan sup ayam. Kemudian pada 24/1 kami sekeluarga membawa Safiyyah menikmati makanan laut di sebuah restoran di Nibong. Malam kami singgah sebentar di Danga Bay sebab Safiyyah nak tengok lampu dan kemudiannya kami membeli beberapa jenis kek. Tiba di rumah, potong kek dan buka hadiah. As simple as that. 25/1, sebelum pulang, Abi membawa Safiyyah melakukan pemeriksaan berkala di KK dan hasilnya, berat Safiyyah sudah nenjangkau 16 kg.


Alhamdulillah, tiada kata yang dapat menggambarkan bahawa saya, seorang manusia bernama ibu, sangat mencintainya. Anak ini, lahir daripada perasaan cinta seorang isteri kepada suami dan sebaliknya. Dia lahir dalam keadaan susah-payah, ketika ibu dan bapanya tiada apa-apa. Dia seorang anak yang bersih, suci dan mulia. Tiada dosa padanya. Dan saya, amat amat berterima kasih kepada Rabb yang maha Pemurah maha Penyayang atas anugerah tidak ternilai ini.

Semoga Allah taa'la memberikan kami kesihatan yang baik demi menjaga dan mendidik puteri ini sebaiknya.


Monday, January 25, 2016

[Diari] Drive carefully, husband.

Safiyyah is officially two years old today. Guess what I cooked for today? Telur kicap and Park Choy tumis tiram.  But we did a small celebration for her yesterday. Just cakes, food, gifts and family. Only adek didn't managed to join us due to her schedule. I will write the details in my next post. Just to keep everything in place so that when the day comes and I gradually lose my memories, this will be the place to recall them.

And to husband, have a safe journey. I love you.

Sunday, January 17, 2016

[Agama]

Hari ini saya pulang ke rumah setelah bermukim hampir seminggu di BM. Keadaan tak seerti yang saya jangkakan. Sememangnya penangan kipas angin di bilik mampu melenakan saya dengan begitu lama. Namun di sini, saya tak mahu menyalahkan kipas tersebut. Ia hanya menjalankan tugasnya yang telah ditetapkan. Statik.

Saya sebenarnya yang lalai dengan nafsu dan syaitan.

Kerana mudahnya tergoda, maka iman manusia biasa itu tidak statik. Ada kala turun, ada kala naik. Kalau tarbiyah dzatiyahnya bagus, maka insyaAllah dia tetap teguh. Kalau nafsu sendiri masih beraja walaupun luarannya bagus bertudung labuh atau bersongkok, tak mustahil dialah pengkhianat Allah yang terbesar.

Hal nafsu dan iman. Hal dalam hati, meskipun secara hakikat, kedua-duanya akan terpancar zahir di mata manusia. Namun sebetulnya, bukan semua perkara dalam hati itu kita tahu bukan?

Kalau tidak, masakan ada pepatah "rambut sama hitam tapi hati lain-lain."

Segala rencana jahat yang kita fikir mahupun kita lakukan, segalanya tersimpan rapi rahsia antara kita dan Allah selagi mana kita tak membocorkan mulut sendiri. Sebab itulah timbulnya istilah hipokrit dan talam 2 muka. Sebab luarannya nampak bagus sekali, tapi hati dan dalamannya berkulat.

Ingat, walau bagaimana kemas pun kita menjaga segala kekotoran hati kita, segalanya akan terlihat jua suatu hari nanti. Ketika itu terduduklah kita tatkala bukan hanya umat ini, malahan seluruh umat daripada zaman Nabi Adam 'alayhi sallam hingga ke umat Rasulullah sallallahu 'alayhi wasallam melihat segala keaiban diri. Tanpa kurang walau hanya satu ayat yang kita tuturkan.

Oleh itu lawanlah nafsu jahat yang datang daripada hati kita itu. Jangan biarkan hati yang dahulunya bersih kini mati dan membusuk. biar mata buta, asal mata hati celik.

Bila itu terjadi hakmi buta mata hati, maka tentu sahaja yang bathil dan haq tak mampu sudah hendak dibezakan. Dan ketika itu, lahirlah seorang lagi manusia yang perasan.

Menyangka apa yang kita lakukan itu baik sedangkan di sisi-Nya, ia tak lebih daripada sekadar dosa.

merasakan baik amal kita, tetapi rupanya tak lebih daripada sekadar sampah.


Wallahu 'alam.



Jannah,
RI,
6.08 petang

Saturday, January 16, 2016

[Diari] Hai anakku

Bila melihat wajah ini, saya punya pengharapan dalam hati.

Semoga Allah mengurniakan kami suami isteri kesihatan yang baik agar kami dapat menjaga amanah ini dengan cemerlang.

Siapa kata tak rindu. Yang senang2 kritik mungkin tak pernah ada anak lagi kot.

Rindu anak ni rindu separuh nyawa.

Rindu yang tak lepas walaupun dah nangis satu malam. Rindu yang tak surut.

Sama macam sayang anak. Walau camane sekalipun anak tu, sayang tu tak pernah kurang, insyaallah..

This child, she is one of the greatest gift from Allah to me. To us.

Allah beritahu bahawa saya ini disayangi; melalui anak ini.

Allah beritahu bahawa saya boleh menyayangi; melalui anak ini. Juga suami.

As long as we are together, I am more than happy. Us. Three.

Fasobrun jamil.

Friday, January 15, 2016

[Diari] Aktiviti Kala Bosan

Haritu baru install online math challenge apps di telefon bimbit. Gian nak mencongak. Lama sangat tak mengira. Orang takde laif beginilah. Main ntah apa-apa je. Dahlah stress, main pula permainan yang boleh bikin lagi stress. Heh. Selain mengira, paling kerap main ialah apa-apa aplikasi brain training. Kadang-kala main juga escape games tapi bila dah habis atau agak2 bosan je terus uninstall.

Sudoku tu masa tahun 2010-2012 punyalah addicted. Asal pergi kedai je cari buku Sudoku. Sedangkan masa sekolah tak suka langsung sebab nampak macam bosan. Kawan sebelah si Mardhiah tu tiap2 hari selesaikan Sudoku di paper NST pun memang pandang sebelah mata je. Ha sekali bila dah reti, suka pula. Cuma, dulu jelah sukanya. Sekarang dah masuk fasa bosan semula. Paling banyak pun seminggu sekali je main.

Chess pun sekali-sekala je buat lepas gian. Dulu masa sekolah jadi wakil catur sekejap dalam dua tahun. Sempat sertai peringkat kebangsaan juga. Tapi lepas tu geng catur semua dah tak ada, terus stop sampai sekarang. Itu yang kekok sangat main. Paling jauh boleh fikir pun 1 langkah ke depan je tak macam dulu boleh fikir sampai 4-5 langkah ke depan. La ni takde confident dah. Main dengan noob pun ketar hahaha.

Setiap kali orang pinjam telefon saya untuk godek2 mesti sekejap je. Sebab semua games yang membosankan je ada hahah. Bukan taknak muat turun apps yang agak fun sikit tapi tak kena dengan jiwalah. In fact, minggu lepas pun ada muat turun permainan perang-perang macam suami punya. Tapi dah padam sebab nak jimat space. Lagipun tak minat. 

Saya hanya minat permainan berasakan minda dan berkaitan penyiasatan sahaja. Tengok pada Safiyyah sekarang, tak pasti lagi di ke arah mana. Harap2nya ke arah yang baik sajalah kan.

Tuesday, January 12, 2016

[Diari] Punggah Gerobok Maya


Ada satu gerai berdekatan dengan kilang ayam tu kan, ada jual nasi bajet tau. Bila kita dengar perkataan nasi bajet, apa yang kita fikir? Mestilah nasi, ayam goreng, sayur kubis air dan air sirap kan? Kebanyakan nasi bajet yang terdapat di pekan kecil ini begitulah pesennya. Dan harga pula antara RM3 - RM3.50.

Tapi berbeza dengan nasi bajet depan kilang tu. Harganya RM4 dan lauknya macam lauk kampung. Beberapa hari lepas suami beli, pekedainya letak nasi menggunung bersama gulai ayam, ikan masin dan pucuk ubi gulai tempoyak. Hari ini menunya berubah pula. Ada nasi, kari daging, ikan masin bulu ayam seekor dan gulai pucuk ubi.

Not bad. Memang kenyanglah bila makan sebab pak cik tu letak nasi banyak. Lauknya pun masih panas masa beli dan sedap pula tu. Cuma hargalah RM4. Tak macam bajet sangatlah. Apa pun, keseluruhannya, kami suka dan insyaAllah akan beli lagi nasi bajet tersebut.






Entah kenapa, masa fasa imtihan ni suka betullah buat aktiviti sorting out, arrange and filing dokumen dalam laptop. Gambar-gambar yang bersepah semua disatukan dalam album khas. Jadi teruja pula nak tengok gambar-gambar tersebut berulang kali bila dah kemas. Kalau bersepah-sepah kan serabut je rasa. Samalah macam folder akademik dan lain-lain. Semua susun cantik-cantik ikut jenisnya. Dalam telefon bimbit pun sama, gambar-gambar masuk folder yang betul. Nama dalam contact list pula semua nama penuh. Sedap je memandang bila cantik tersusun macam tu kan.

Ini memang habit daripada dulu lagi. Kalau stress masa final je mulalah godek-godek laptop, bersihkan dan delete apa yang perlu. Walaupun ambil masa sedikit tetapi bila dah siap, puasnya hati. Stress pun berkurang hahaha.

Sayangnya, banyak gambar yang hilang sebab semua tersimpan rapi dalam laptop sebelum ni. Gambar semasa di luar negara, gambar di MRSM, gambar di matrikulasi dan banyak lagi. Kalau ada mesti seronok dapat lihat sambil imbas semula kenangan manis dengan sahabat-sahabat lama. :)





Saturday, January 9, 2016

[Cerpen] Aisyah Chan Mei Lei

Alhamdulillah, Allah telah menggerakkan keinginan saya untuk mencari naskhah cerpen pendek yang saya tulis tujuh tahun lepas semasa menjadi penulis kolum cerpen dalam buletin ramadhan di universiti terdahulu. Simpanan asal hilang bersama laptop yang rosak termasuklah simpanan di internet kerana laman web di mana saya menghantar kiriman tersebut pula telah ditutup. Tak sangka rupanya ada orang lain menyiarkannya di blog mereka beberapa tahun dahulu. Alhamdulillah.

Saya sangat sukakan cerpen ini meskipun laras bahasanya kurang matang kerana ia cerpen yang ditulis dari hati, dengan iman. Ia cerpen penuh kenangan terhadap sahabat lama yang sangat saya rindui - Kak Asma', Shill dan Zumie. Kerana mereka bertiga yang berada di samping saya sepanjang saya menulisnya. Uhibbukunna fillah. Hanya Allah taa'la sahaja yang tahu betapa pedihnya jiwa menahan rindu terhadap sahabat yang dicintai dengan ikhlas. Jika tidak di dunia, semoga di syurga Firdaus kita bertemu kembali, sahabat...

Oh ya, ini cerpennya. Bahagian akhir tiada kerana keratannya tidak dijumpai. :(

****

AISYAH CHAN MEI LEI
Oleh: Jannah Najiha


Kenangan ketika Aidiladha 2009

SATU
Seingat saya, tidak banyak kenangan manis yang dapat saya kongsi bersama ayah. Ayah seorang yang introvert lalu jarang menghabiskan masa bersama keluarga. Selain itu, ayah juga panas baran dan sering memarahi saya menyebabkan saya kurang gemar bermesra dengannya. Kadang-kala saya terfikir juga, tidak adakah sekelumit sabar pun dalam diri ayah kerana yang hanya termampu untuk saya kenang adalah cacian dan hinaan dia terhadap saya, anak kandungnya. 

Saya tahu ayah bencikan saya dahulu. Saya boleh lihat pada matanya. Lagipun, perbuatan ayah sendiri sudah cukup menggambarkan segalanya. 

Saya masih ingat peristiwa yang terjadi semasa saya berumur 7 tahun. Ketika itu ayah dan ibu bergaduh fasal saya. Ibu ingin memasukkan saya ke sekolah Inggeris manakala ayah pula dengan pilihan sekolah Cinanya. Pilihan saya pula? Tentu sekali sekolah Inggeris kerana saya ingin keluar daripada kepompong kaum Cina. Walaupun saya masih setahun jagung, tetapi fikiran saya jauh lebih dewasa daripada usia. Mungkin kerana pengaruh buku-buku Inggeris yang diperkenalkan oleh Kak Michelle, jiran saya. 

“Ah, membazir saja hantar dia ke situ. Dia anak yang bodoh!” lancang mulut ayah berkata. Mungkin dia tidak sedar saya berada di sisi. Tapi bagaimana pula dia boleh kata saya bodoh sedangkan di kala anak-anak Cina lain masih bertatih menyebut A,B,C, saya sudah pun boleh menulis? Sebagai bukti, pak cik Kok Kent selalu memuji saya dengan mengatakan saya anak yang bijak. 

Mujur ibu kuat mempertahan. Katanya, jika saya bodoh tentu bapa pun bodoh sebab saya keturunannya. Ayat itu menyebabkan ayah tercengang seketika. Mungkin dia percaya perkara tersebut seperti dia percaya pada sial. 

Ah, fikiran orang dahulu memang mudah didoktrinkan kerana mereka kurang ilmu. Lebih-lebih lagi ayah yang tidak pernah bersekolah. Bukan saya mahu mengutuknya, tapi ini adalah hakikat. Ilmu itu sangat penting bagi memisahkan manusia daripada kejahiliyahan. Wahyu pertama sendiri juga bermula dengan ‘Iqra’ yakni bacalah bukan? 

Lama bertikam lidah, akhirnya ayah setuju juga. Sempat pula dia menjeling tajam pada saya sambil memberi amaran, “kalau kamu tak belajar betul-betul, aku rotan nanti!” Gerun saya mendengarnya. 

Ayat ayah yang berbisa itu saya pegang sebagai satu motivasi untuk saya belajar bersunguh-sungguh. Saya sudah set minda bahawa sekiranya saya lulus, pasti ayah akan menyayangi saya. Maka pada setiap malam saya akan belajar sambil ditemani lampu minyak tanah yang diberikan oleh Mak Cik Poh Yee. Bila difikirkan semula, alangkah terdesaknya saya terhadap kasih-sayang seorang ayah ketika itu. 

Setiap hari berlalu seperti biasa. Malam itu pun sepatutnya menjadi malam yang sama seperti sebelumnya. Namun ada sesuatu telah terjadi yang akhirnya meragut ketenangan saya buat beberapa ketika. Ketika itu saya sedang khusyuk menelaah pelajaran tatkala telinga saya menangkap bunyi tangisan di luar. Aneh, siapa pula yang menangis malam-malam buta ini? 

Saya mengintai-intai di balik tingkap. Ah, ada seorang wanita di anjung rumah saya! Benar, dia sedang menangis. Saya cuba mengenalpasti gerangan wanita tersebut. Tapi ternyata sukar untuk melihat dengan jelas dalam kepekatan malam. Andai boleh diputarkan masa, mungkin saya akan tutup buku dan tidur sahaja. Namun naluri muda saya ketika itu telah memaksa saya pergi menjenguk di luar. Lalu dengan langkah yang perlahan, saya melangkah keluar dari bilik menuju ke anjung. Tepat ke arah wanita itu. 





DUA
“Ibu?” Terpacul perkataan itu dari mulut saya ketika cuba melihat dalam kesamaran malam.

Saya tercengang-cengang. Kaki yang pantas melangkah terhenti tiba-tiba. Fikiran saya seperti terperangkap. Tidak pernah saya melihat ibu menangis begitu.

Saya ingin sangat tahu apa yang terjadi pada ibu namun tidak sampai hati pula saya nak menerjahnya malam-malam. Mungkin sekarang ibu perlukan masa untuk bersendiri. Tak mengapa, esok masih ada.

Pagi itu, saya turun sarapan seperti biasa. Ibu sedang menyiapkan bekal untuk saya bawa ke sekolah manakala Ayah pula sedang minum kopi.

“Ibu, ibu, kenapa ibu menangis semalam?” saya menyoal sambil menyumbat beberapa roti ke mulut. Sejurus saya bertanya, pinggan yang dipegang ibu terjatuh di meja. Mujur sahaja tidak pecah. Kelam-kabut ibu mengemasnya tanpa menghiraukan pertanyaan saya tadi. Tapi saya perasan air muka ibu berubah cuma tidak pasti kenapa. Adakah kerana soalan saya itu? Ah, mulut saya ni terlalu lancang. Saya tidak patut bertanya sebenarnya.

Sepanjang bersarapan, ayah langsung tidak mengendahkan apa yang berlaku. Selalunya dia akan berleter juga jika ada yang tidak kena namun pagi itu dia senyap sahaja. Namun itu tidaklah pelik bagi saya kerana ayah sememangnya tidak pernah peduli akan orang lain.

Saya menyangka peristiwa semasa sarapan itu terhenti sekadar di situ tetapi saya salah.

Pada sebelah malamnya ketika saya sedang tidur, ayah tiba-tiba masuk ke bilik saya. Dia menolak daun pintu dengan kasar. Wajahnya seperti menahan kemarahan yang teramat.

“Mei Lei!” Ayah menjerit ke arah saya yang dalam keadaan separuh sedar.

“Mei Lei bangun!” kali ini jeritan ayah amat kuat sehingga membuatkan jantung saya seperti terkena kejutan tiba-tiba. Saya terus bangun dan lari ke hujung katil kerana takut. Itulah wajah ayah yang paling menakutkan pernah saya lihat.

Ayah menarik keluar paip getah yang disorok di belakang seluarnya. Ketika itu, saya sudah membayangkan bahawa saya akan mati sahaja. Berkali-kali saya berdoa entah pada siapa supaya mengirimkan saya seorang ibu pari-pari untuk mengeraskan ayah supaya dia tidak membunuh saya.

Belum sempat ayah melibas saya, terdengar bunyi tapak kaki ibu di luar bililk. Dia berlari-lari mendapatkan saya.

“Kamu benar-benar sudah gila!” teriak ibu sambil memeluk erat saya.

“Dia anak sial! Tak patut lahir ke dunia!”

Saya benar-benar tidak mampu bernafas dalam dakapan ibu dan kata-kata ayah itu menambahkan lagi sesak di dada ini.

“Kalau kamu mahu bunuh dia, lebih baik kamu bunuh aku dulu! Dia anak kamu!”

Tangan ayah yang sudah naik menjangkau paras kepalanya tiba-tiba kaku. Ayah menjatuhkan paip getah tersebut lalu terduduk. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan bilik tanpa menoleh sedikit ke arah saya. Ibu masih memeluk saya sambil mengusap ubun-ubun saya untuk menenangkan saya yang menangis ketika itu.

Peristiwa tersebut sungguh memberi kesan terhadap hubungan saya dan ayah. Saya sudah jarang bercakap dengannya kecuali ketika hal-hal kecemasan. Selebihnya saya akan merujuk pada ibu sahaja. Terlalu sukar untuk saya melupakan pengalaman pahit yang membuatkan saya begitu gerun dengan ayah itu.





 

TIGA
Beberapa tahun selepas itu, saya berjaya menjejakkan kaki di menara gading dalam bidang pendidikan. Walaupun banyak saudara yang mengumpat saya kerana memilih bidang yang dianggap oleh mereka sebagai tak menguntungkan, saya tetap dengan pendirian saya kerana bukan mereka yang mengawal rezeki saya.

Suatu hari, berlaku kejadian yang benar-benar merubah kehidupan saya 100%. Kejadian yang membuatkan saya mula berfikir mengenai sesuatu.

Semuanya terjadi ketika saya dan rakan, Fatimah sedang menjamu selera di bilik setelah pulang dari membeli makanan di café.

“Kau percaya pada kehidupan selepas mati Mei Lei?” tanya Fatimah sambil meratah peha ayam sambal.

“Masyarakat Buddha percaya bahawa selepas kita mati, kita akan dihidupkan semula.”

“Bagaimana tu? Aku tak faham.”

Baru sahaja hendak menjawab, tiba-tiba perut saya memulas. Ah, terpaksa saya biarkan persoalan Fatimah itu dahulu demi melepaskan hajat yang tak tertanggung ini. ….

“Kalau kamu buat baik sekarang, nanti kamu akan dihidupkan semula menjadi orang yang lebih baik,” saya menjawab seusai menutup daun pintu.

“Kalau ada tuah nanti, bolehlah aku jadi Donald Trump!” saya menyambung lagi sambil menghabiskan sisa-sisa milo panas yang baru dibuat sebentar tadi.

“Wah, senang-senang saja boleh jadi kaya ya?” balas Fatimah sambil mengenyitkan matanya. Dia tersengih-sengih.

“Jadi kaya senang tapi tak bahagia. Aku bukan ingat engkau pun nanti,” saya mengeluh.

“Eh, tak bestlah kalau tak dapat ingat semua kenangan indah tu.”

“Itulah pasal. Mesti tak best sebab nanti aku dah tak kenal kau dah Fatimah. Takde dahla orang nak belanja aku makan roti canai,” saya berpura-pura sedih.

“Oh, tengok muka aku ingat roti canai saja ya?” Fatimah membulatkan mata sebelum kami sama-sama ketawa. Sambil itu sempat pula dia mencubit pinggang saya, tanda geram.

“Alah, tak apa Fatimah. Aku bukan percaya sangat la dengan benda macam ni. ” Saya membalas untuk meredakan keadaan. Keropok Super Ring di sisi saya koyak sebelum memakan isi perutnya. Tiba-tiba rasa ingin makan banyak pula hari itu.

“Eh, boleh ke Buddhist tak percaya dengan agama sendiri? Atau kau sudah jadi free thinker?”

Kata-kata Fatimah itu membuatkan saya tidak senang duduk. Memang benar saya kurang percaya pada agama sendiri. Alah, semua ritual keagamaan saya ikuti pun kerana disuruh oleh ibu sedangkan saya tidak rela kerana tidak tahu kepentingannya. Tetapi saya malulah andai orang tahu akan hal ini kerana pasti nanti orang akan memandang serong terhadap saya. Aduh, malang sungguh hari ini terlepas cakap pula!

“Bagaimana dengan kau?Boleh ingat semua benda lepas mati?” saya cuba mengalih perhatiannya.

“Bukan setakat ingat Mei Lei, tapi semua benda yang kami buat akan dipertontonkan di hadapan sekalian manusia nanti. Yang baik, yang buruk, semua akan dibalas dengan setimpal. Siapa yang buat jahat, memang malu besarlah.”

“Nanti?”

“Ya. Nanti – di hari akhirat. Hari akhirat itu akan terjadi apabila dunia ini dah musnah dan waktu itu semua orang akan dihitung amalannya. Kemudian ditentukan sama ada masuk neraka atau syurga.”

Neraka? Syurga? Ah, perkataan itu benar-benar menarik perhatianku.

“Sebab itukah kau orang sanggup mati kerana agama? Kerana mahu masuk syurgakah?”

“Ada sebab yang lebih besar daripada itu Mei Lei. Malahan, kalau tiada syurga pun, aku percaya ramai yang tetap ingin mati demi agama kami,” jawab Fatimah bersungguh-sungguh. Sepertinya dia mahu memanjangkan lagi perbualan.

“Sebab apa?”

“Sebab itu tujuan hidup kami.”

“Eh, tujuan hidup kamu untuk mati ke?”

Fatimah tergelak kecil. Saya mengangkat kening tanda memohon jawapan namun dia tidak menjawab pertanyaan saya sebaliknya berkata;

“Kau tahu Mei Lei, hidup tanpa ada tujuan itu seperti…”

“Seperti bermain golf tanpa ada lubang penamat. Ada kayu dan bola golf tapi tak tahu hendak ditujukan ke arah mana,” tiba-tiba terpacul ayat tersebut dari mulut saya tanpa saya sedari...


EMPAT
Berdebar-debar saya menanti reaksi ayah. Tatkala saya memberitahu khabar mengenai status saya tadi, wajah ayah berubah merah menahan marah. Ibu terdiam membatu manakala Kok Kent pula terus bangun dan masuk ke dalam bilik.

Ya Allah, kuatkan saya…

“Kemas barang kamu sekarang. Tiada apa lagi yang tinggal buatmu di sini,” ayah menjawab ringkas. Saya memandang ibu. Cuba untuk mencari simpati namun ibu masih pegun. Maka dengan berat hati, saya masuk ke bilik, mengemas barang dan melangkah meninggalkan rumah dengan perasaan yang bercampur-baur.

“Biasanya itulah yang akan terjadi. Akak dahulu pun sama. Keluar dari rumah hanya dengan beg baju dan wang RM10. Memang rasa macam hidup ni dah berakhir. Tapi mujurlah Allah sudah mempersiapkan akak dengan seorang ustazah yang menjadi ibu angkat akak. Jadi, malam-malam seterusnya akak menumpang di rumah ibu angkat akak itu,” kata Kak Sumayyah ketika saya bermalam di rumahnya.


LIMA
Sebenarnya setelah peristiwa dialog bersama Fatimah itu berlalu, fikiran saya diketuk dengan bermacam persoalan. Demi merungkaikan kekusutan di minda, saya mencari sendiri jawapan. Pernah sekali, saya bertanya pada rakan sekuliah saya, Sylvia mengenai Kristian.

“Kau percaya dengan Jesus?”

“Apa beza Jesus dan Nabi Isa?”

Juga beberapa soalan lain yang saya sudah tidak ingat.

“Kau beri aku masa dulu. Nanti aku tanya pada pengkhutbah yang aku kenal. Mereka pasti tahu pasal konsep Trinity itu.”

Malangnya beberapa pertemuan kami selepas itu juga tidak mencapai objektifnya iaitu untuk merungkai segala persoalan dalam diri saya. Malah, membuatkan lebih banyak sarang teka-teki yang berserabut.

Beberapa minggu selepas itu, Fatimah membawa ibu saudaranya berjumpa saya kerana saya ingin mendapatkan sedikit penjelasan mengenai Islam. Semuanya terjadi setelah Fatimah membaca tulisan saya di blog.

“Aku sudah pergi ke gereja dan ke kuil. Aku sudah berjumpa para sami Buddha. Aku sudah membaca terjemahan Bible. Aku sudah bersoal-jawab dengan kawanku. Malangnya, aku hanya tertarik pada yang satu itu – yang aku abaikan selama ini kerana prejudisnya aku terhadap penganutnya. Aku tidak mencari Islam, tetapi entah kenapa Islamlah yang aku sering fikirkan…”

Amat mengagumkan saya, beliau bukan sahaja dapat menjawab persoalan saya tentang Islam malah persoalan mengenai agama lain juga.

“Jesus sendiri menyeru kepada umatnya untuk menyembah Tuhan yang Esa, bukan dirinya. "Jawab Jesus : hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” Mark, 12 : 29,”(1) balas Dr. Sakinah ketika menjawab beberapa persoalan yang dikemukan.

“Saya hanyalah menyampaikan kebenaran setakat termampu saya. Setiap manusia itu dikurniakan akal untuk berfikir dan hati untuk meyakini,” begitu Dr. Sakinah berkata sebelum kami bersalaman dan berpisah.


ENAM
Fatimah memeluk saya. Kami menangis bersama-sama. Tiada kata yang dapat saya ungkapkan untuk menggambarkan perasaan saya ketika itu. Hanya Allah sahaja yang tahu betapa bersyukurnya saya kerana diberikan taufiq dan hidayah untuk merasai nikmat Islam dan iman.

“Lepas ini aku kena panggil kau apa?” tanya Fatimah sambil tersenyum.

“Apa-apa sajalah. Namaku kan masih Mei Lei. Cuma di depannya saja ada tambahan, jadi Aisyah Chan Mei Lei.”

“Ah, aku panggil Aisyah sajalah ya. Kau kan bijak. Seperti Aisyah r.a, isteri Rasullah,” balas Fatimah, menutup perbualan kami berdua.

Hari itu menjadi hari yang paling bermakna dalam hidup saya walaupun kegembiraannya cuma sekejap. Karenah birokrasi yang membebankan, sikap umat Islam yang memandang pengislaman saya hanya sekadar propaganda jahat dan masalah keluarga yang membenci saya cukup membuatkan 5 tahun pertama saya seperti ribut; ribut yang nikmat

Thursday, January 7, 2016

[Makanan] Gambar-Gambar Kenangan


Rehat sekejap daripada pembacaan, saya melihat video serta gambar-gambar kenangan keluarga kecil kami. Rindunya hendak bertamu di teratak mertua. Rindu arwah nenek suami serta rindu tapak kaki kecil anak kami.

Selain gambar keluarga kami, saya juga melihat beberapa gambar makanan yang pernah diambil dahulu. Beberapa daripadanya telah mencuit minda pada kenangan lama, kenangan saya dan suami serta kenangan kami bersama puteri kami.


Waktu ni sedih sangat, so suami belanja Burgerbyte yang jauh berbatu dari pekan kami

Masakan pertama suami untuk saya di rumah baru kami

Dating pertama selepas melahirkan Safiyyah

Kari daging pertama kami masak sama-sama. Tapi 80% suami buat.

Dine out pertama kami bertiga selepas kelahiran Safiyyah


Tak lama lagi kami akan memasuki usia 3 tahun pernikahan serta 4 tahun perkenalan. Ulangtahun pertunangan dah lepas lama dah. Rasa macam baru semalam nikah tapi dah lalui macam-macam perkara bersama. Gagal, jatuh, bangun, banyak dah rasa dan akan rasa lagi di masa hadapan. Bergaduh dan berbaik semula tu lumrahlah dalam rumah tangga. Bukan senang okay nak sehidup semati dengan orang yang kita tak berapa kenal ni hahaha. But still marriage is a sweet thing. Sometimes you hate your spouse so much you can barely look at his face, sometimes you love him so much you are willing to sacrifice your life for him. That is a marriage. 



Walaupun kadang-kala bertekak, tapi selalu saya fikir, saya tak boleh hidup gembira juga tanpa dia. Saya sendiri pun dah lupa bagaimana rasanya hidup membujang dahulu. Sebab sekarang ni kami hampir 24 jam menghadap muka masing-masing, sampai rasa pelik sangat bila suami tiada walaupun sekejap. Dan dahulu pun rasa pelik dan bagai nak gila bila anak tiada di sisi, tetapi setelah setahun berlalu, semangat dah makin kuat. Sedih tu sentiasa ada tapi takdelah menangis 3 hari 3 malam kat bucu katil macam tahun lepas. Dah boleh sikit-sikit untuk buat normal dan senyum macam tak ada apa-apa. After all, saya tahu saya sayangkan anak dan suami saya and it is all that matters. Orang luar nak cakap apa, biarkanlah. Mulut memang senang mengucapkan, tunggulah sehingga apa yang diumpat kembali kepada diri sendiri, barulah sedar ludah dah jatuh ke muka. Kan?


Semoga kita semua sentiasa dalam perlindungan Allah taa'la. :)



Sunday, January 3, 2016

[Makanan] Percubaan Buat Puding Roti



Pulang ke rumah tengah hari tadi, saya perasan ada sebungkus roti lama dalam tujuh keping. Masih belum tamat tarikh luput pun tapi suami dah guna roti baru. Jadi saya fikir daripada membazir, lebih baik buat puding roti kan? 

Bezanya puding roti ini ialah saya tidak menambah kismis sebagai hiasan malah sebaliknya saya tambahkan sedikit coklat untuk memberikan rasa coklat padanya kerana saya tidak buat kuah kastard. Alhamdulillah walaupun teksturnya boleh diperbaiki lagi tetapi rasanya sedap sangat! Tanpa kuah kastard pun dah makan bertambah-tambah. 

Lepas ni boleh cuba lagi dengan penambahbaikan seperti mengurangkan sukatan susu dan tambah coklat cip pula. InsyaAllah.

Alhamdulillah untuk rezeki ini. 

[Makanan] Hari Ini Masak Pizza

Today I cooked a stove top pizza using a saute pan. I made pizza quite a few times already but this is my first pan pizza. I got the recipe from Youtube which is quite a famous recipe. It is easy to follow and time saving. And yes, it turned out pretty good and delicious except for the bottom part where it was a little bit hard to chew because I forgot to turn down the temperature. But overall, it was a good try and delicious. I will definitely going to try it again someday in the future.


Topping is pasta sauce with some broccoli, minced beef and cheese


p/s: I miss you baby girl...



Friday, January 1, 2016

[Diari] Safiyyah First Birthday

It's finally January 2016. Two years ago in this month, I gave birth to a beautiful young lady named Safiyyah. She was so tiny because she was born prematurely. She only weighed 2.24 kg but today, she is approximately 15 kg. This month, Safiyyah will be reaching two years old. I am quite nervous about it but still have no exact plan in mind. A few weeks ago I thought about organizing a small occasion with husband's friends. Unfortunately it couldn't be done since husband is going to be sonewhere far away from us for eight weeks. So maybe I will just cook a small dinner for the family. After all, celebration is not that important. What more important is appreciation.


This is Safiyyah's first birthday cake I made last year with the help of my sisters



Can't wait to meet that date. :) Thank you Allah for giving us a wonderful adorable child. JSAMA, we love you so much and there is no words that could describe the feelings parents hold toward their children. I may not expressed them enough, but sincerely from the bottom of my heart, I miss you and I love you endlessly. I pray that you will be surrounded and loved by everyone and by Allah swt through the entire journey of your life. I pray that you will be a hafizah (the person who memorizes 30 juzu' of al-Quran) someday and that you will always do good and be good to people. Live for Allah taala and choose your path wisely. Ummi and Abi loves you so much.